Senin, Mei 10, 2010

pkm tahu

Projek pkm- P
ROMA NUGRAHA RUSPUTRA

1. JUDUL : Pembuatan Biofertilizer yang Berasal dari Limbah Cair Tahu Untuk Pertumbuhan Tomat

2. Latar Belakang
Di era globalisasi perkembangan industri di Indonesia semakin pesat, berdasarkan skalanya industri dibedakan menjadi dua kelompok yaitu industri besar dan kecil. Berbagai macam industri tersebut antara lain industri kimia, kertas, tekstil dan semen. Adapun contoh industri kecil antara lain industri tahu, tempe dan krupuk. Banyaknya industri dapat menimbulkan dampak positif dan negatif. Dampak positif dari industri antara lain terciptanya lapangan pekerjaan dan pemanfaatan teknologi baru di berbagai bidang. Adapun dampak negatifnya berasal dari limbah industri yang bersangkutan.
Berdasarkan karakteristiknya, limbah industri dapat digolongkan menjadi tiga bagian, yaitu limbah cair, gas dan partikel, serta padat. Sedangkan berdasarkan nilai ekonominya, limbah dibedakan menjadi limbah yang memiliki nilai ekonomis dan limbah yang tidak memiliki nilai ekonomis. Limbah yang memiliki nilai ekonomis yaitu limbah yang apabila diproses akan memberikan suatu nilai tambah. Salah satu contoh adalah limbah pabrik gula, tebu merupakan limbah yang dapat digunakan sebagai bahan baku untuk industri alkohol, sedangkan ampas tebu dapat dijadikan bahan baku kertas karena mudah dibentuk menjadi bubur pulp. Limbah non ekonomis yaitu suatu limbah walaupun telah dilakukan proses lanjut dengan cara apapun tidak akan memberikan nilai tambah kecuali sekedar untuk mempermudah system pembuangan. Limbah jenis ini sering menimbulkan masalah pencemaran dan kerusakan lingkungan (Kristanto, 2002).
Industri tahu merupakan salah satu jenis industri kecil yang limbah cair nya perlu segera ditangani karena di dalam proses produksinya mengeluarkan limbah cair yang cenderung mencemari lingkungan perairan di sekitarnya baik dari segi kualitas maupun kuantitas (Moertinah dan Djarwanti, 2003). Limbah cair yang dihasilkan oleh industri tahu masih mengandung padatan tersuspensi dan terlarut yang dapat mencemari perairan, oleh karena itu harus diturunkan kadarnya sebelum dibuang ke perairan. Air limbah industri tahu berasal dari proses pencucian dan perendaman kedelai, serta dari pengepresan dan pencetakan tahu. Selain itu juga dari sisa larutan serta dari proses pencucian peralatan masak (Djarwanti dkk, 2000A). Buangan air limbah ini masih banyak mengandung zat organik,seperti protein, karbohidrat, lemak, zat terlarut yang mengandung padatan tersuspensi atau padatan terendap (Sola, 1994).
Adanya bahan organik yang cukup tinggi (ditunjukkan dengan nilai BOD dan COD) menyebabkan mikroba menjadi aktif dan menguraikan bahan organik tersebut secara biologis menjadi senyawa asam-asam organik. Peruraian ini terjadi disepanjang saluran secara aerob dan anaerob. Timbul gas CH4, NH3 dan H2S yang berbau busuk (Djarwanti dkk, 2000A).
Salah satu cara untuk mengatasi limbah tahu agar tidak berdampak buruk pada lingkungan yaitu dengan dibuat biofertilizer. Biofertilizer atau sering kita kenal sebagai pupuk hayati adalah ………………………………………………………………………………………
Dari hasil biofertilizer ini kita dapat jadikan pupuk yang alami yang ramah lingkungan pupuk ini dapat digunakan dalam berbagai tumbuhan salah satu nya adalah pada tanaman tomat. Buah tomat saat ini merupakan salah satu komoditas hortikultura yang bernilai ekonomi tinggi dan masih memerlukan penanganan serius, terutama dalam hal peningkatan hasilnya dan kualitas buahnya. Siapa tak kenal tomat. Sayur buah berwarna merah. Kaya akan vitamin C dan Antioxidan. Tomat (Solanum lycopersicum syn. Lycopersicum esculentum) merupakan tumbuhan keluarga Solanaceae, asli Amerika Tengah dan Selatan, dari Meksiko sampai Peru. Siklus hidup tanamannya singkat, dapat tumbuh setinggi 1 sampai 3 meter, selain itu tanaman tomat juga mempunyai waktu tumbuh yang singkat yaitu ± 3 bulan.
Apabila dilihat dari rata-rata produksinya, ternyata tomat di Indonesia masih rendah, yaitu 6,3 ton/ha jika dibandingkan dengan negara-negara Taiwan, Saudi Arabia dan India yang berturut-turut 21 ton/ha, 13,4 ton/ha dan 9,5 ton/ha (Kartapradja dan Djuariah, 1992). Kemampuan tomat untuk dapat menghasilkan buah sangat tergantung pada interaksi antara pertumbuhan tanaman dan kondisi lingkungannya. Faktor lain yang menyebabkan produksi tomat rendah adalah penggunaan pupuk yang belum optimal serta pola tanam yang belum tepat.


3. Perumusan Masalah

Selama ini limbah tahu telah menjadi momok yang menakutkan untuk pencemaran lingkungan yang akan berakibat merusak maka dengan ini kami ingin membuat suatu penelitian yang dapat mengubah limbah tahu agar dapat bermanfaat dan dapat digunakan kembali.

4. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan agar dapat menciptakan suatu produk yang ramah lingkungan dan dapat bermanfaat bagi kehidupan di dunia ini.

5. Manfaat Penelitian

Penelitian ini bermanfaat untuk mengurangi efek dari limbah tahu yang dapat berakibat negatif bagi kelangsungan hidup semua orang.

6. Tinjauan Pustaka

Menurut Hierodenimus Budi Santoso dalam bukunya ‘Pembuatan Tempe Dan Tahu’.(2000)Tahu berasal dari negeri Cina. Kata “tahu sendiri sesungguhnya berasal dari bahasa Cina, yakni : tao-huatau teu-hu. Suku kata tao atau teu berarti kacang kedelai, sedangkan hu berarti hancur menjadi bubur. Dengan demikian secara harafiah, tahu adalah makanan yang bahan bakunya kedelai yang dihancurkan menjadi bubur.
Tahu dapat berisi hingga 6 gram lemak, tahu sutera mengandung sekitar 5 gram lemak. Meskipun tahu lemak jenuh, namun itu masih lebih rendah dibandingkan dengan daging. Sedikitnya ada dua macam jenis tahu yang rendah lemak yang ada di pasaran. Tahu bubuk juga ada di pasar makanan alami dan toko-toko makanan Asia. Tidak lebih sulit membuatnya dibandingkan tahu segar. Kandungan gizi yang terdapat di dalam tahu cukup tinggi, dan juga mengandung beberapa asam amino yang dibutuhkan tubuh manusia, John Heinnermen dalam bukunya ‘Khasiat Kedelai Bagi Kesehatan Anda’.(2003).
Proses pembuatan tahu akan menghasilkan limbah(cair atau padat), limbah ini(cair) sangat menggangu lingkungan. (Khairinal dan Trisunaryanti, 2000).

Masalah pencemaran semakin menarik perhatian masyarakat, dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir ini. Hal ini dapat kita lihat dengan semakin banyaknya kasus-kasus pencemaran yang terungkap ke permukaan. Perkembangan industri yang demikian cepat merupakan salah satu penyebab turunnya kualitas lingkungan. Penanganan masalah pencemaran menjadi sangat penting dilakukan dalam kaitannya dengan pembangunan berwawasan lingkungan terutama harus diimbangi dengan teknologi pengendalian pencemaran yang tepat guna (Haryono, 1997).




6.1 Biofertilizer





6.2 Limbah Cair Tahu
Perkembangan industri yang demikian cepat merupakan salah satu penyebab turunnya kualitas lingkungan. Penanganan masalah pencemaran menjadi sangat penting dilakukan dalam kaitannya dengan pembangunan berwawasan lingkungan terutama harus diimbangi dengan teknologi pengendalian pencemaran yang tepat guna (Haryono, 1997). Masalah pencemaran semakin menarik perhatian masyarakat, dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir ini. Hal ini dapat kita lihat dengan semakin banyaknya kasus-kasus pencemaran yang terungkap ke permukaan.
Pada umumnya industri-industri besar telah memiliki instalasi pengolahan limbah, sehingga pencemaran yang diakibatkan oleh limbah industri tersebut hampir seluruhnya telah dapat ditangani. Sebaliknya, limbah yang berasal dari industri kecil masih perlu diperhatikan karena kebanyakan industri kecil belum memiliki instalasi pengolahan limbah sendiri Industri tahu merupakan salah satu jenis industri kecil yang limbah cairnya perlu segera ditangani karena di dalam proses produksinya mengeluarkan limbah cair yang cenderung mencemari lingkungan perairan di sekitarnya baik dari segi kualitas maupun kuantitas (Moertinah dan Djarwant, 2003)

Limbah cair yang mengandung padatan tersuspensi maupun terlarut, mengalami perubahan fisik, khemis, dan hayati yang akan menghasilkan zat beracun atau menciptakan media untuk tumbuhnya kuman. Kuman ini dapat berupa kuman penyakit atau kuman lainnya yang merugikan baik pada tahu itu sendiri ataupun pada manusia Limbah akan berubah warnanya menjadi coklat kehitaman dan berbau busuk. Bau busuk ini akan mengakibatkan gangguan pernafasan. Apabila air limbah ini merembes ke dalam tanah yang dekat dengan sumur maka air sumur itu tidak dapat dimanfaatkan lagi, apabila limbah ini dialirkan ke sungai maka akan mencemari sungai dan bila masih digunakan maka akan menimbulkan penyakit gatal, diare, dan penyakit lainnya (http://www.menlh.go.id/usaha-kecil/olah/tahu.htm).

6.3 Identifikasi Bakteri pada Limbah Tahu
Menurut Kepala Balai Pengembangan Makanan, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Industri Hasil Pertanian (BBIHP) Bogor, Ir Basrah, yang bersama Ir Dadang Supriatna telah meneliti hal tersebut, nata adalah sejenis makanan penyegar yang bahan bakunya kini dari air kelapa dan biasa dikenal dengan sebutan nata decoco, disebutkan pula, hasil penelitian yang dilakukannya menunjukakkan air limbah pengolahan tahu, baik air limbah
pengolahan tahu Cina (yang dibuat dengan penggumpal siokho) atau limbah pengolahan tahu biasa (yang dibuat dengan penggumpal asam/air biang), dapat dimamfaatkan unutk pembuatan (nata de coco).
Sebagai makanan atau lauk pauk yang realtif murah dan bergizi, tahu juga dikenal berprotein tinggi. Berdasarkan data dari statistik yang ada, industri pengolahan tahu di Indonesia sebanyak 4.000 unit yang tersebar di Jawa Barat dan berbagai daerah lainnya.
Jika ditinjau dari komposisi kimianya, ternyata air limbah tahu mengandung nutrien-nutrien (protein, karbihidrat, dan bahan-bahan lainnya) yang jika dibiarkan dibuang begitu saja ke sungai justru dapat menimbulkan pencemaran. Tetapi jika dimamfaatkan akan menguntungkan perajin tahu atau masyarakat yang berminat mengolahnya.
Whey tahu selain mengandung protein juga mengandung vitamin B terlarut dalam air, lestin dan oligosakarida. Whey tahu mempunyai prospek untuk dimamfaatkan sebagai media fermentasi bakteri, diantaranya bakteri asam asetat Asetobacter sp termasuk bakteri Asetobacter xylinum. Asetobacter xylinum dapat mengubah gula subtat menjadi gelselulosa yang biasa dikenal dengan nata
Dengan pertolongan bakteri tersebut (Asetobacter xylinum) maka komponen gula yang ditambahkan ke dalam subtrat air limbah tahu dapat diubah menjadi suatu bahan yang menyerupai gel dan terbentuk di permukaan media. Menurut hasil penelitian micorbial cellulose ini nata selain untuk makanan, sekarang (teruatma di Jepang) telah dikembangkan unukt kseperluan peralatan-peralatan yang berteknologi tinggi, misalnya untuk membran sound
system.(Harian Umum Suara Pembaruan, 4 Oktober 1994,) file:///C:/Documents%20and%20Settings/Administrator/My%20Documents/seminar/bhn%20sk ipsi/0001.html)
6.4 Fermentasi




6.5 Tanaman Tomat










7. Metode Penelitian

Dalam penelitian ini digunakan indikator berupa semple limbah tahu dari 2 pabrik yang dari masing-masing, sebagai pembanding untuk mengetahui jenis mikroba apa yang terdapat didalamnya. Yang nantinya dapat dimanfaatkan sebagai Biofertilizer pada tanaman tomat.



















Variable dalam penelitian 2 limbah tahu sebagai pembeda :
variable 1 limbah tahu di pabrik A
variable 2  limbah tahu di pabrik B

Model yang digunakan acak lengkap dengan 2 X pengulangan

Rancangan penelitian 



Teknik pengumpulan data 



Analisis data  Penelitian dilakukan secara eksperimental. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap. Data dianalisis dengan Sidik Ragam yang dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan (Steel dan Torrie, 1993).




Cara penafsiran 



Penyimpulan 









Hasil dan Pembahasan

1. Limbah Industri Pangan
Sektor Industri/usaha kecil pangan yang mencemari lingkungan antara lain ; tahu, tempe, tapioka dan pengolahan ikan (industri hasil laut). Limbah usaha kecil pangan dapat menimbulkan masalah dalam penanganannya karena mengandung sejumlah besar karbohidrat, protein, lemak , garam-garam, mineral, dan sisa0sisa bahan kimia yang digunakan dalam pengolahan dan pembersihan. Sebagai contohnya limbah industri tahu, tempe, tapioka industri hasil laut dan industri pangan lainnya, dapat menimbulkan bau yang menyengat dan polusi berat pada air bila pembuangannya tidak diberi perlakuan yang tepat.
Air buangan (efluen) atau limbah buangan dari pengolahan pangan dengan Biological Oxygen Demand ( BOD) tinggi dan mengandung polutan seperti tanah, larutan alkohol, panas dan insektisida. Apabila efluen dibuang langsung ke suatu perairan akibatnya menganggu seluruh keseimbangan ekologik dan bahkan dapat menyebabkan kematian ikan dan biota perairan lainnya.



Daftar Pustaka
• Kristanto, Philip. 2002. Ekologi Industri. Yogyakarta: Penerbit ANDI
Moertinah, Sri dan Djarwanti. 2003. Penelitian Identifikasi Pencemaran Industri Kecil Tahu-Tempe di Kelurahan Debong Tengah Kota Tegal dan Konsep Pengendaliannya. Laporan Penelitian. Badan Penelitian dan Pengembangan Industri Semarang
Djarwanti, Moertinah, S., dan Harihastuti, N. 2000. Penerapan IPAL Terpadu Industri Kecil Tahu di Adiwerna Kabupaten Tegal. Laporan Penelitian.Badan Penelitian dan Pengembangan Industri Semarang
Djarwanti, Sartamtomo, dan Sukani. 2000. Pemanfaatan Energi Hasil Pengolahan Limbah Cair Industri Tahu. Laporan Penelitian. Badan Penelitian dan Pengembangan Industri Semarang
Sola, Laban. 1994. Pengembangan dan Uji Coba Peralatan Pengolahan Air Limbah Industri Tempa dan Tahu. Laporan Penelitian. Badan Penelitian dan Pengembangan Industri Ujung Pandang
• file:///E:/PKM/TAHU/aHR0cDovL2RpZ2lsaWIudW5uZXMuYWMuaWQvZ3NkbC9jb2xsZWN0L3Nrcmlwc2kvYXJjaGl2ZXMvSEFTSGVlY2EuZGlyL2RvYy5wZGY=.htm
• http://www.menlh.go.id/usaha-kecil/olah/tahu.htm
• file:///C:/Documents%20and%20Settings/Administrator/My%20Documents/seminar/bhn%20skripsi/0001.html
• file:///C:/Documents%20and%20Settings/Administrator/My%20Documents/seminar/bhn%20skripsi/Dampak_Limbah.htm

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar