Senin, Mei 10, 2010

MIMOSINE


1. Judul : Pemanfaatan Daun Lamtoro (Leucaena lecocephala) sebagai Bahan Pakan Sumber Protein dan Mengurangi Akumulasi Logam Berat pada Tubuh Ayam Lokal

2. Latar Belakang

Jumlah penduduk di Indonesia semakin meningkat setiap tahunnya. Hal ini menyebabkan kebutuhan protein, khususnya protein hewani bagi masyarakat menjadi bertambah besar. Protein yang berasal dari hewan ini menjadi kebutuhan vital sebagai penunjang kesehatan dan kecerdasan bangsa. Kandungan asam amino yang terdapat dalam protein hewani menjadikannya lebih baik sehingga tidak dapat digantikan dengan protein yang berasal dari tumbuh-tumbuhan.
Masalah kekurangan energi dan protein di Indonesia, terutama yang menimpa anak-anak, ibu hamil dan yang sedang menyusui telah banyak dilaporkan. Kenyataan tersebut mendorong peternakan sebagai penghasil protein hewani untuk terus mengembangkan produksi ternak dalam jumlah besar dengan kualitas yang baik serta biaya produksi yang rendah.
Kebutuhan daging yang diproduksi pada umumnya berasal dari ternak sapi, kerbau, domba, kambing dan unggas. Ayam lokal merupakan jenis unggas yang banyak dipelihara di pedesaan. Pemeliharaannya masih bersifat tradisional dan biasanya dibiarkan begitu saja dengan pakan yang diberikan seadanya dan lebih banyak unggas tersebut mencari sendiri di alam. Sistem pemeliharaan tersebut menyebabkan performans ayam lokal kurang optimal dan membutuhkan waktu lama agar dicapai produksi yang maksimal. Untuk itu perlu dilakukan intensifikasi pemeliharaan ayam lokal agar dapat diusahakan dalam jumlah besar dan waktu yang dibutuhkan yang relatif singkat.
Intensifikasi pemeliharaan ayam lokal memberikan konsekuensi berupa biaya pakan yang harus dikeluarkan, padahal biaya pakan merupakan biaya terbesar dalam usaha peternakan yang dapat mencapai lebih dari 70% dari biaya produksi. Untuk itu diperlukan bahan pakan yang murah, persediaan terjamin dan tidak bersaing langsung dengan kebutuhan manusia.
Lamtoro merupakan sumber daya hayati yang potensial untuk digunakan sebagai pakan dengan dihasilkannya limbah hijauan yang bernilai nutrisi baik. Di Indonesia tanaman leguminosa ini mudah ditanam sehingga membantu penyediaan pakan secara kontinu, dimana lamtoro mempunyai potensi besar untuk dikembangkan sebagai penghasil hijauan makanan ternak sepanjang tahun. Tanaman ini dapat menghasilkan bahan kering dari unsur-unsur yang dapat dimakan (daun dan ranting-ranting kecil) sebesar 6-8 ton per hektar per tahun atau sekitar 20-80 ton bahan segar. Kandungan protein kasar hijauan lamtoro cukup tinggi, yaitu di atas 24%.
Ditinjau dari kandungan protein kasar serta komposisi asam amino, daun lamtoro cukup tinggi dan seimbang. Komposisi asam amino daun lamtoro hampir seimbang dengan tepung ikan kecuali lisine dan metionine lebih rendah, sedangkan bila dibandingkan bungkil kedelai kecuali asam glutamat, asam amino lainnya cukup seimbang. Dua komoditi di atas (tepung ikan dan bungkil kedele) merupakan komposisi bahan pakan terbesar dalam pakan pada industri makanan ternak di Indonesia serta hampir 100% impor.
Namun demikian terdapat kendala dalam pemanfaatan daun lamtoro tersebut sebagai pakan ayam, karena disamping mengandung zat-zat yang menguntungkan bagi ternak, daun lamtoro mengandung zat-zat yang merugikan bagi ternak, yaitu terdapatnya zat anti nutrisi mimosine. Mimosine merupakan golongan toksin asam amino, dimana kandungan pada daun berkisar 1,4-7,19 g/100 g bahan kering yang lebih tinggi pada seluruh hijauan, yaitu 0,70-3,59 g/100g. Mimosine menyebabkan berbagai macam pengaruh negatif terhadap ternak, alopacia adalah efek yang paling umum, kehilangan nafsu makan, produksi saliva berlebihan, inkoordinasi kaki, pembesaran kelenjar gondok, performan reproduksi buruk, menekan pertumbuhan dan kematian post natal. Mimosine juga menyebabkan defisiensi glisine untuk sintesis asam empedu sehingga menyebabkan penurunan absorpsi lemak yang pada akhirnya akan menyebabkan defisiensi vitamin dan pigmen yang larut lemak. Hal ini diduga dapat menyebabkan terganggunya deposisi pigmen pada jaringan unggas.
Efek mimosine akan berkurang bila senyawa tersebut terikat dengan kation bervalensi 2-3. Diantaranya dapat diikat dengan ion Fe 2+, Al3+ Cu2+, Pb2+, Ca2+ dan Mg2+ menjadi senyawa yang sukar diserap usus selanjutnya dekeluarkan bersama feses. Sifatnya yang mampu mengikat ion memberikan peluang bagi daun lamtoro selain sebagai bahan pakan sumber protein juga meredam toksisitas logam berat, dimana logam berat merupakan salah satu sumber pencemaran lingkungan yang sampai saat ini menjadi perhatian oleh banyak kalangan terutama setelah mencuatnya kasus Teluk Buyat.
Timbal merupakan salah satu logam berat yang sangat beracun. Sumber pencemaran Pb utama berasal dari emisi kendaraan bermotor. Sumber kontaminasi Pb lainnya di antaranya mencakup cat, limbah peleburan logam, dan pestisida berupa Pb arsenat. Unsur ini mempunyai dampak kesehatan yang luas dan berbahaya yang dapat mempengaruhi hampir semua organ tubuh, misalnya ginjal, hati, sistem saraf, dan gastrointestinal. Mineral ini juga mempengaruhi metabolisme sintesis darah merah sehingga dapat menyebabkan anemia. Timbal ditimbun dalam tulang. Pada waktu mengalami stress, logam tersebut akan dimobilisasi dari tulang dan masuk ke dalam peredaran darah serta menimbulkan risiko terjadinya keracunan. Masuknya Pb ke aliran darah selanjutnya dibawa ke sistem saraf dan merusak jaringan saraf. Keracunan Pb yang akut dapat mengakibatkan perangsangan dalam sistem gastro-intestinal yang disertai dengan diare. Akibatnya kesehatan dan pertumbuhan terganggu, yang berakhir dengan peningkatan kematian.
Timbal masuk ke dalam tubuh ternak melalui pakan atau air minum yang tercemar sehingga produk pangan yang dihasilkannya juga tercemar Pb. Konsumsi pakan yang tercemar Pb ini lebih lanjut kemungkinan akan meningkatkan deposisi Pb dalam tubuh manusia. Risiko tubuh ternak tercemar Pb menjadi lebih besar karena tidak adanya standardisasi dan pemeriksaan yang jelas mengenai kadar Pb dalam bahan pakan di Indonesia. Untuk itu, pemberian bahan pakan dalam ransum ternak yang dapat mengikat Pb akan menyebabkan ternak terhindar dari pencemaran logam berat tersebut dan menghasilkan produk pangan yang aman dikonsumsi.

3. Perumusan Masalah
Lamtoro merupakan tanaman legume yang mengandung protein tinggi dan berpotensi sebagai bahan pakan sumber protein yang murah bila pohon tersebut dibudidayakan. Namun demikian, legume ini mengandung racun berupa mimosin yang berakibat mengganggu kesehatan bagi ternak. Di sisi lain senyawa tersebut dapat direduksi kemampuan toksiknya bila terikat dengan logam berat seperti Pb yang telah terbukti sangat menganggu kesehatan bagi hewan/manusia yang tercemar logam tersebut. Melihat hal tersebut, maka terdapat beberapa rumusan masalah yang menjadi objek penelitian, yaitu:

a. Sampai seberapa jauh penggunaan daun lamtoro sebagai bahan pakan sumber protein bagi ayam lokal.
b. Sampai seberapa jauh efek mimosin yang terkandung di dalam lamtoro dapat direduksi dengan kehadiran Pb dalam air minum yang tercemar terhadap performans ayam lokal.
c. Sampai seberapa besar kadar Pb dalam feses dan organ dalam (hati dan ginjal) ayam lokal akibat kehadiran mimosin dalam pakan yang mengandung lamtoro.

4. Tujuan Program
a. Mempelajari penggunaan daun lamtoro sebagai bahan pakan sumber protein bagi ayam lokal.
b. Mempelajari pengurangan toksiksitas dari mimosin yang terdapat dalam lamtoro pada pakan ayam lokal akibat kehadiran Pb dalam air minum yang tercemar.
c. Mengetahui kadar Pb feses dan organ dalam pada pakan ayam lokal yang mengandung mimosin pada daun lamtoro.

5. Luaran yang Diharapkan
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk menambah khasanah ilmu pengetahuan dalam bentuk artikel ilmiah yang dapat dimuat dalam jurnal nasional.

6. Kegunaan Program
Kegunaan penelitian ini adalah dalam upaya memanfaatkan daun lamtoro sebagai bahan pakan sumber protein yang murah untuk mengurangi biaya pakan serta memanfaatkan senyawa yang terkandung didalamnya (mimosine) dalam meredam akumulasi Pb dalam tubuh ternak (ayam lokal). Hal ini dapat dijadikan model dalam upaya mencegah terjadinya pencemaran Pb dalam pakan/ransum.

7. Tinjauan Pustaka
Lamtoro (Leucaena leucocephala)
Lamtoro atau nama latinnya Leucaena leucocephala adalah sejenis tumbuhan kacang-kacangan yang berbentuk pohon yang termasuk dalam keluarga Mimoseae. Lamtoro lebih dikenal dengan nama Kemlandingan atau Petai Cina. Tanaman ini berasal dari Amerika Tengah terdiri atas lebih dari 100 species, berupa semak dan pepohonan (Siahaan, 1982).
Pada permulaannya suku Indian Kuno seperti Maya dan Zapotec di negeri asalnya memanfaatkan lamtoro sebagai kayu bakar dan bahan bangunan serta sebagai bahan makanan. Dengan perkembangan zaman, kegunaan lamtoro berkembang menjadi penghasil kayu, arang, tanaman pelindung, tanaman selang, pelestari lingkungan, dan makanan ternak.
Menurut Meulen et al. (1979), lamtoro dapat digunakan untuk hijauan makanan ternak dan mempunyai potensi besar untuk dikembangkan. Hal ini disebabkan karena lamtoro mudah ditanam, cepat tumbuh, produksi tinggi dan dapat tumbuh lama. Lamtoro merupakan spesies yang dominan digunakan sebagai pagar tanaman pada areal padang penggembalaan karena sifat tumbuh dan produksi daunnya yang baik. Pada pohon lamtoro kecil dapat mencapai tinggi sepanjang 2-3 m dalam satu tahun dengan penanaman yang berasal dari biji (Anonymous, 1989).
Pada lazimnya lamtoro ini dapat hidup dan berkembang subur di daerah tropis yang bercurah hujan terartur 760 mm atau kurang, bahkan tumbuhan tersebut juga mampu tahan hidup di daerah-daerah yang kering?tandus kurang hujan atau suhu iklim 10oC paling rendah (Soerodjotanojo, 1983). Hal ini disebabkan lamtoro mempunyai akar tunggang yang kuat dan berakar serabut sedikit. Panjang akar biasanya 2/3 tinggi pohonnya. Dengan demikian lamtoro dapat menghisap air dan zat-zat makanan jauh ke dalam tanah dimana tanaman lain tidak dapat mencapainya.
Di akarnya juga terdapat bintil-bintil dimana bakteri Rhizobium hidup secara saling menguntungkan sehingga tanaman ini dapat mengikat nitrogen dari udara. nItrogen sangat dibutuhkan oleh tanaman. Tidak semua tanah mengandung jenis dan jumlah bakteri Rhizobium yang tepat. Oleh karena itu, sebelum ditanam, lamtoro harus diinokulasikan trelebih dahulu. (Anonymous, 1982). Perbanyakan tanaman berasal dari biji dimana dalam 1 Ha lahan dapat digunakan 4-6 kg biji, sedangkan produksi benihnya 300 kg biji dalam 1 ha. Bila lamtoro ditanam untuk makanan ternak, pemotongan pertama dapat dilakukan sampai sisa tanaman adalah 2-4 inchi dari atas tanah (5-10 cm dari atas tanah) dan kemudian pemotongan berikutnya dapat dilakukan tiap 4 bulan sekali. Lamtor ditanam sebagai tanaman annual, biennial atau perennial. Sebagai tanaman annual, lamtoro dapat menghasilkan bahan kering yang dapat dimakan antara 6 sampai dengan 8 ton/ha atau sekitar 20-80 ton bahan segar per hektar per tahun (NAS, 1984). Penggunaan lamtoro sebagai pakan dibatasi karena adanya suatu racun yang disebut dengan mimosine. Tangendjaja (1983) menyatakan bahwa produksi hijauan lamtoro sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor : tanaman itu sendiri, kepadatan tanaman, tinggi pemotongan dan frekuensi pemotongan.
Nilai nutrisi daun lamtoro cukup baik. Hal ini terlihat pada Tabel 1yang menunjukkan bahwa tepung daun lamtoro mengandung protein tinggi, meskipun serta kasar dan abu juga cukup tinggi. Di samping itu, tampak kandungan karoten yang tinggi yang menunjukkan bahwa daun lamtoro dapat dimanfaatkan sebagai sebagai sumber pigmentasi bagi ternak unggas (Ruskin, 1977).

Mimosine
Mimosine adalah senyawa aromatik yang mirip dengan asam amino namun bukan protein yang menyebabkan alopecia (Hegarty et al., 1978). Rusmus kimia senyawa iini adalah β-N-(3-hydroxypyridone-4)-α-amino-propenoic acid (Brewbaker dan Hylin, 1965). Mimosine terdapat pada biji dan daun berbagai species Leucaena (D’Mello, 1991). Mimosine pertama kali diisolasi dari Mimosa pudica oleh Renz pada tahun 1936. Kemudian Wibaut dan Klippol pada tahun 1950 menemukan ileucaenin dari Leucaena leucocephala yang ternyata identik dengan mimosin, selanjutnya leuicenin disebut mimosine.
Mimosine mempunyai struktur yang sama dengan tyrosine dan phenilalanine dan telah diketahui dapat menggantikan asam amino tersebut. Penggantian dapat menyebabkan hilangnya enzim dan aktivitas fungsional protein (Puchala et al. 1995). Meulen et al. (1979) melaporkan bahwa mimosine atau beberapa komponen gotrogenic yang lain diduga berkaitan dengan metabolisme kelenjar thyroid. Hegarty et al. (1976) melaporkan bahwa mimosine itu sendiri tidak bersifat gitrogenik, tetapi lebih disebabkan oleh komponen 3,4-dehydrokxypyridine (3,4-DHP). Selanjutnya dilaporkan bahwa mimosine dapat menekan konsumsi iodine oleh kelenjar thyroid tikus, sementara 3,4 DHP menekan konsumsi iodine sebesar 50% bahkan ketika hewan diberi pakan tinggi iodine sehingga menakibatkan turunnya kadar hormon thyroksin dalam darah yang berguna untuk metabolisme yang pada akhirnya dapat menekan pertumbuhan. L-Thyrosine decarboxilasi dikatalisa oleh enzim tyrosine bakterial yang dihambat jika mimosine diinkubasi dengan enzim tersebut (Grove et al. 1978). Jika mimosine dan tyrosine diinkubasi, reaksi dekarboksilasi menunjukkan adanya komplek tyrosine dan mimosin.
Kandungan mimosine daun dan batang muda lebih tinggi dibanding daun dan batang yang tua. Menurut Brewbaker dan Hylin (1965) kandungan mimosine dipengaruhi oleh varietas tanaman lamtoro. Meskipun lamtoro telah banyak digunakan sebagai pakan di negara-negara tropis, mimosine menyebabkan keracunan pada ternak. Jones (1979) menyatakan bahwa ternak ruminansia lebih tahan dibandingkan ternak berlambung tunggal, sebab ternak ruminansia mempunyai bakteri dalam rumen yang mampu mengubah mimosine menjadi 3-hydroksi-4 (1H)-pyridone (DHP) yang kurang beracun. Selanjutnya dinyatakan oleh D’mello (1992) bahwa mimosine merupakan sumber toksin terbesar dari tepung daun lamtoro untuk unggas. D’Mello (1992), 3,4-DHP diduga terdapat juga pada daun legume sebagai aktivitas enzim pasca panen (pasca pemotongan). Selain itu Lowry (1983) menyatakan bahwa selain 3,4-DHP juga terdapat goitrogen lain dan isomer 2,3-DHP yang disintesis di rumen dan beberapa bakteri rumen mampu mendegradasi kedua bentuk DHP menjadi bentuk yang belum teridentifikasi yang merupakan komponen tidak beracun. D;Mello (1992) menyatakan bahwa pada ruminansia selama degradasi mimosine menjadi 3,4-DHP mempengaruhi kehilangan citarasa (apetite), goitre, penurunan kadar tyroksin dalam darah.
Sebelumnya dilaporkan oleh Hegarty et al. (1964), bahwa ayam yang disuntik mimosine tidak ditemukan DHP mimosine maupun DHP dalam fesesnya. Pada ayam, Manfred et al. (1983) menyatakan bahwa bila dosis tidak melebihi dari 0,19 g/kg bobot ayam, mimosine tidak akan menyebabkan hambatan pertumbuhan. Librojo dan Hathcock (1974) menemukan mimosine dalam urine yang diambil dari ureter ayam yang disuntik mimosine secara intravena dan diberi pakan tepung daun lamtoro hingga 30%. Hal ini membuktikan bahwa ayam juga mampu mengubah mimosine menjadi DHP. Sedangkan Samarnu (1986) melaporkan bahwa penambahan tepung daun lamtoro mempunyai sifat menghambat terhadap pertumbuhan alat reproduksi dan produksi telur. Penambahan 10% dan 20% tepung daun lamtoro pada periode grower menyebabkan pertumbuhan badan, jengger dan dewasa kelamin terhambat. Demikian pula perkembangan ovarium terhambat ditandai dengan perubahan struktur ovarium. Dipihak lain pemberian tepung daun lamtoro 5%, 10% dan 20% menyebabkan kenaikan tingkat warna kuning telur dan kenaikan Hugh Unit pada level 10% dan 20%.
Puchala et al. (1995) menyatakan bahwa toksin mimosine menyebabkan defisiensi glisine untuk sintesis asam empedu, sehingga menyebabkan penurunan absorbsi asam lemak sehingga menyebabkan defisiensi vitamin yang larut dalam lemak. (Danielsoon dan Tchen (1968) menyatakan bahwa asam empedu berada dalam bentuk konjugasi dengan glisine atau taurine, yang dikatalisis oleh fraksi mikrosomal dan membutuhkan ATP, koenzim A dan Mg2+. Pola konjugasi ini dipengaruhi oleh pakan, aktivitas hormon tyroid dan penyakit. Selanjutnya dinyatakan oleh Piliang et al. (1991) bahwa garam empedu dibentuk dalam hati dan terdiri atas Natrium glycocholat dan Natrium taurokholat yang berfungsi meningkatkan kerja enzim-enzim pankreas seperti amylase, trypsin dan terutama lipase. Garam garam empedu juga meningkatkan absorpsi usus terhadap vitamin-vitamin larut lemak. Bila saluran empedu mengalami ganguan maka sekitar 25-75% lemak yang dikonsumsi akan diekskresikan melalui feses dalam bentuk asam lemak.

Detoksifikasi Mimosine
Berbagai usaha yang dilakukan untuk menrunkan daya racun mimosine dalam daun lamtoro diantaranya adalah dengan pemanasan, penambahan garam sulfat, penambahan senyawa analog mimosine, pencucian, emndapatkan varietas baru yang rendah kandungan mimosinenya.
Lowry et al. (1983) menyatakan bahwa perubahan mimosine menjadi DHP dapat pula dilakukan oleh enzim yang terdapat di dalam daun, batang, dan biji lamtoro. Enzim ini akan menjadi aktif bila jaringan tanaman lamtoro segar dihancurkan misalnya dikunyah oleh ternak. Pemecahan mimosine menjadi DHP yang optimal terjadi pada suhu 70oC selama 15 menit. Murthy et al. (1994) melakukan penelitian dengan pelakuan fisik pengeringan matahari sampai dengan dry matter lebih dari 90% dan pengovenan pada suhu 100oC selama 12 jam serta perendaman dalam air selama 12 jam, inkubasi dalam larutan FeSO4 0,2% selama 12 jam serta inkubasi dalam larutan 5% NaOH. Perlakuan fisik tersebut menghasilkan penurunan mimosine yang terbaik dan kehilangan protein yang terkecil. Setelah dicobakanm ke ayam broiler memberikan pertambahan bobot badan dan konversi pakan yang tidak berbeda dengan kontrol. Meulen et al. (1979) menyatakan bahwa mimosine mempunyai kemampuan mengikat ion Fe2+, Al3+, Cu2+, Pb2+, Ca2+ dan Mg2+ menjadi senyawa yang sukar diserap usus dan selanjutnya dikeluarkan bersama feses. Pada proses pengikatan Fe2+ tidak langsung diikat oleh mimosine melainkan mengalami oksidasi menjadi Fe3+ . Berkurangnya pengaruh mimosine setelah penambahan FeSO4 telah dibuktikan oleh Labadan (1969). Dosis FeSO4 yang ditambahkan ke dalam pakan ayam adalah 0,15% dan 0,30%. Sementara itu, Puchala et al. (1995) menyatakan bahwa mimosine dapat diturunkan dengan menambahakan larutan FeSO4 sebanyak 12,6 g/kg lamtoro. Labadan (1969) menyatakan bahwa penambahan senyawa analog mimosine, yaitu tirosin, piridoksin, dan niasin ke dalam pakan juga dilakukan pada pakan yang mengandung tepung daun lamtoro 10,20 dan 40%. Sepertihalnya pengaruh penambahan senyawa analog mimosine juga memperbaiki pertumbuhan badan, konversi pakan dan menurunkan mortalitas ayam percobaan. Selain tiu juga diteliti mengenai pengaruh pencucian terhadap daya racun mimosine. Daun lamtoro sebelum dibuat tepung dicuci terlebih dahulu dengan air. Ternyata setelah diberikan pada ayam dapat memperbaiki pertumbuhan badan, konversi pakan, dan menurunkan mortalitasnya. Meulen et al. (1979) menyatakan bahwa merendam dan mencuci daun lamtoro ternayata menurunkan kandungan mimosine dari 7,19% menjadi 5,96%.

Timbal dan Dampaknya pada Kesehatan
Timbal (Pb) merupakan salah satu jenis logam berat dan memiliki sifat toksik. Baird (1995), Pb termasuk dalam sepuluh besar racun yang berbahaya bagi manusia. Menurut Saeni (1997) Pb merupakan logam berat yang paling berbahaya kedua, setelah merkuri.
Sumber pencemaran Pb utama berasal dari emisi kendaraan bermotor. Adanya Pb dalam bahan bakar karena adanya bahan aditif berupa Pb tetra etil yang dikenal dengan TEL (tetra ethyl lead) dengan rumus kimia Pb(C2H5)4 yang sengaja diberikan untuk meningkatkan nilai oktan bahan bakar bensin (Soedomo et al. 1983). Menurut Haslett (1984), rata-rata 2/3 sampai 3/4 dari kadar Pb dalam TEL akan diemisikan ke udara. Menurut Ferguson (1991) Pb yang berasal dari emisi kendaraan bermotor di udara dapat berbentuk aneka macam senyawa dan yang utama adalah bentuk PbClBr, PbBr2 atau PbCl2, yang selanjutnya dengan pengaruh sinar matahari, senyawa-senyawa tersebut akan berubah menjadi PbO. Sebagian Pb akan tetap berada di udara, sebagian lagi akan jatuh ke bumi dan mengendap. Bila pH tanah asam rendah, Pb akan mudah larut dan diserap oleh tanaman (Sumarwoto 2004). Sumber kontaminasi Pb lainnya di antaranya mencakup cat, limbah peleburan logam, dan pestisida berupa Pb arsenat (NRC 1972).
Timbal dapat masuk ke tubuh di samping melalui makanan atau minuman, juga melalui udara dan menembus langsung melalui kulit. Linder (1992) menyatakan bahwa bila masuk ke dalam tubuh, Pb didistribusikan melalui darah yang hampir semuanya ada di dalam eritrosit. Sekitar 90% Pb akan ditimbun dalam tulang dan sisanya dalam jaringan lunak terutama hati dan ginjal. Oleh tubuh, Pb diekskresikan dalam empedu, dan 10 hingga 20% melalui urine. Zat-zat pengkhelat seperti EDTA dapat menghilangkan Pb yang berlebihan dari jaringan lunak pada tubuh.
Menurut Haslett (1984) orang yang banyak menghirup Pb dapat menjadi stress. Sedangkan Baird (1995) dan Saeni (1989) menyatakan bahwa Pb dapat menumpuk pada tulang karena ion Pb2+ dapat mengantikan ion Ca2+ pada tulang yang memiliki ukuran sama sehingga menyebabkan defisiensi Ca. Akibat keracunan Pb lainnya adalah tidak berfungsinya sperma. Pada dosis tinggi, Pb mengakibatkan anemia, gagal ginjal, tekanan darah tinggi, dan kerusakan otak permanen. Dikatakan pula bahwa anak-anak di bawah usia tujuh tahun merupakan kelompok yang paling rentan terhadap Pb karena dapat mempengaruhi pertumbuhan otak dan mentalnya. Baird (1995) menyatakan bahwa hasil penelitian di Australia pada anak dengan kandungan Pb sebesar 30 g/100 g darah, rata-rata memiliki IQ 4 sampai 5 satuan lebih rendah dibandingkan anak dengan kandungan Pb 10 g/100 g darah. Keracunan Pb pada hewan akan mengalami pika dan anoreksia (Cohen et al. 1984), serta mengubah psikologi (MRC 1988) dan fisiologi (IPCS 1993) tubuh hewan tersebut.
8. Metode Penelitian
Hewan Percobaan dan Perlakuan
Hewan percobaan yang digunakan berupa ayam lokal jantan sehat umur sekitar 2-3 bulan dengan bobot badan relatif sama sebanyak 30 ekor. Ayam tersebut dialokasikan ke dalam 6 perlakuan yang diulang 5 kali, masing-masing unit percobaan mengandung 1 ekor ayam lokal. Ayam lokal tersebut ditempatkan dalam kandang individu. Ransum yang digunakan terdiri atas : daun lamtoro, tepung ikan, bungkil kedele, jagung kuning, dedak padi (sebagai perlakuan), minyak sawit, dikalsium fosfat dan premiks. Ransum disusun dengan kandungan protein dan energi metabolis berturut-turut sebesar 16% dan 2600 kkal/kg. Ternak dipelihara selama 60 hari. Logam berat yang dijadikan bahan pencemar adalah Pb yang diberikan lewat air minum. Adapun perlakuan yang diberikan dalam penelitian ini adalah paket ransum sebagai berikut :

a) Ransum mengandung 0% daun lamtoro
b) Ransum mengandung 15% daun lamtoro
c) Ransum mengandung 30% daun lamtoro
d) Ransum mengandung 0% daun lamtoro + air minum 100 ppm Pb
e) Ransum mengandung 15% daun lamtoro + air minum 100 ppm Pb
f) Ransum mengandung 30% daun lamtoro + air minum 100 ppm Pb

Peubah yang Diamati
Pengukuran Bobot Akhir
Pengukuran Bobot akhir dilakukan dengan mengukur bobot hidup ayam pada akhir penelitian.

Pengukuran Pertambahan Bobot Badan
Pertambahan bobot badan diperoleh dengan mengurangi bobot akhir penelitian dengan bobot awal penelitian. Penimbangan dilakukan pada pagi hari sebelum ayam tersebut mendapatkan ransum.
Pengukuran Konsumsi Ransum
Penghitungan konsumsi bahan kering dilakukan setiap hari dengan cara mengurangi jumlah ransum yang diberikan dengan sisa ransum yang tidak dimakan pada hari berikutnya.
Pengukuran Konversi Ransum
Konversi ransum diperoleh dengan membagi jumlah konsumsi bahan kering setiap hari dengan pertambahan bobot badan harian.

Pengukuran Kadar Pb pada Hati, Ginjal dan Feses

a) Pengabuan Basah (Wet Ashing)
Pengukuran kadar mineral sampel terlebih dahulu dilakukan preparasi dengan metode wet ashing (Restz et al. 1960). Sampel ditimbang dalam Erlenmeyer 100 ml, kemudian ditambahkan HNO3 pekat 5 mL dan dibiarkan selama 1 jam sampai menjadi bening. Berikutnya sampel dipanaskan selama 4 jam di atas hot plate. Setelah 4 jam lalu sampel didinginkan dan ditambahkan 0.4 mL H2SO4 pekat, kemudian dipanaskan kembali selama ± 30 menit. Pada saat perubahan warna, sampel diteteskan 2-3 tetes larutan campuran HClO4 + HNO3 (2:1) dan setelah itu dipanaskan lagi selama ± 15 menit. Terakhir, sampel ditambahkan 2 mL aquades dan secara bersamaan ditambahkan 0.6 mL HCl pekat, setelah itu dipanaskan selama ± 15 menit sampai larut. Sampel dibiarkan menjadi dingin dalam suhu kamar, lalu dilarutkan dengan aquades sampai 100 mL dalam labu takar dan disiapkan untuk dianalisis dengan atomic absorption spectroscopy (AAS).

b) Pengukuran Mineral
Sampel hasil wet ashing ditambahkan 0.05 mL larutan Cl3La.7H2O, lalu disentrifuse dengan kecepatan 2500 rpm selama 10 menit, kemudian diukur absorbansinya dengan AAS pada panjang gelombang sesuai dengan jenis mineral yang akan dibaca. Semua hasil pembacaan dibandingkan dengan kurva standar.

Teknik Analisis Data
Penelitian dilakukan secara eksperimental. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap. Data dianalisis dengan Sidik Ragam yang dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan (Steel dan Torrie, 1993).

Model Matematika : Yij =  + i + ij

di mana, : Yijk = Respons hasil pengamatan
 = Rata-rata umum
i = Pengaruh perlakuan ke-i
ij = Pengaruh komponen galat
i = Banyaknya perlakuan (1, 2,...,8)
j = Banyaknya ulangan (1, 2, 3, 4,)

Asumsi :
1. Nilai ij menyebar normal satu sama lain
2. ij = 0
3. ij 2= 2
Jadi, ij  N (0, 2)

9. Jadwal Pelaksanaan Program
Pelaksanaan kegiatan direncanakan selama 8 bulan, dengan jadwal kegiatan sebagai berikut:

Jenis Kegiatan Tempat Person
el Bulan Ke-
1 2 3 4 5 6 7 8
Pencarian Ba-han
Persiapan Kan-dang
Penyusunan Ransum
Pemeliharaan
Sampel organ dalam, daging dan feses
Analisis Min-eral
Pengolahan data
Pembuatan lap-oran
Seminar di Fa-kultas
Pengiriman La-poran


10. Personalia Penelitian
1. Ketua Peneliti
a. Nama lengkap dan gelar : Deny Saefulhadjar, S.Pt, M.Si
b. Golongan, pangkat/ NIP : III-A/ Penata Muda/132145765
c. Jabatan fungsional : Asisten Ahli
d. Jabatan struktural : Tidak ada
e. Fakultas/Program Studi : Peternakan /Nutrisi dan Makanan Ternak
f. Perguruan Tinggi : Universitas Padjadjaran
g. Bidang Keahlian : Nutrisi Ternak Unggas
h. Waktu yang disediakan : 12 jam/minggu

2. Anggota Peneliti
a. Nama lengkap dan gelar : Iman Hernaman, Ir. M.Si
b. Golongan, pangkat/ NIP : III-D, Penata Tk 1/132146262
c. Jabatan fungsional : Lektor
d. Jabatan struktural : Tidak ada
e. Fakultas/Program Studi : Peternakan/Nutrisi dan Makanan Ternak
f. Perguruan Tinggi : Universitas Padjadjaran
g. Bidang Keahlian : Nut., Makanan Ternak dan Kimia Pakan
h. Waktu yang disediakan : 8 jam/minggu

3. Anggota Peneliti
a. Nama lengkap dan gelar : Kurnia A.Kamil, Ir. M.Agr.Sc, M.Phil
b. Golongan, pangkat/ NIP : III-D, Penata Tk1/131408367
c. Jabatan fungsional : Lektor
d. Jabatan struktural : Tidak ada
e. Fakultas/Program Studi : Peternakan/Nutrisi dan Makanan Ternak
f. Perguruan Tinggi : Universitas Padjadjaran
g. Bidang Keahlian : Fisiologi Ternak
h. Waktu yang disediakan : 8 jam/minggu




11. Rincian Anggaran Penelitian

JENIS BIAYA JUMLAH
Pelaksanaan Kegiatan
• Pakan (32 ekor x 100 g/hari x 60 hari x Rp 3.000,-/kg ) Rp. 576.000.-
• Analisis Proksimat Bahan Pakan (4 bahan x Rp.150.000,-) Rp. 600.000,-
• Bahan Kimia Pb Asetat (Pro Analisis kemasan 250 g) Rp. 500.000,-
• Ayam lokal 32 ekor x Rp. 10.000,- Rp. 320.000.-
• Sewa Kandang 2 bulan Rp. 200.000.-
• Analisis Pb bahan pakan (4 x Rp. 30.000,-) Rp. 120.000,-
• Analisis Pb ginjal, hati dan Feses (3 x 32 ekor x Rp. 30.000) Rp. 2.880.000.-
Dokumentasi Rp. 90.000.-
Perbanyakan dan Pembuatan Laporan Rp. 250.000,-
Seminar Rp. 200.000
Total Rp. 5.736.000,-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar